Jumat, 30 Januari 2026

[Cerpen] Harapan dan Keikhlasan


Judul : Harapan dan Keikhlasan
Penulis : Ovelia
Genre : Spiritual, Keluarga
Jenis : Cerpen
Rating : PG-17
Jumlah Kata : 1100+
Sampul : AI
Rekomendasi lagu pengiring membaca : Cakra Khan - Opera Tuhan
Tokoh :
— Aku sebagai Perawat
— Pria sebagai Pasangan
— Eyang Putri sebagai Pasien
— Yuf sebagai Keluarga Pasien

Pengakuan Hak Cipta :
Keseluruhan plot dan ide cerita ditulis oleh Ovelia. Penulis tidak mengambil keuntungan apapun dari cerpen yang Penulis buat kecuali untuk hiburan semata. Mengutip sebagian atau seluruh isi dari cerpen ini tanpa menyertakan nama Penulis dan mengakui sebagian atau seluruh cerpen ini dengan tidak atas nama Penulis adalah PELANGGARAN HAK CIPTA.

*Terima kasih kepada tokoh 'Yuf' yang menjadikan inspirasi bagi Penulis hingga bisa terciptanya cerpen ini untuk dibaca.

Summary :
"...masa mau nggak ikhlas terus. Kita ini kan ada yang punya..."
—Yuf

Selamat membaca :) 

***


Sore itu, Eyang Putri menitikkan air matanya. Bibir dengan mukosa tipisnya tak lagi kuasa ketika tanpa sengaja menyinggung cerita mengenai salah satu putri tercintanya yang sudah berpulang ke Pangkuan-NYA. 

Aku terdiam sembari mendengarkan, apakah aku harus mengeluarkan kalimat penghiburan? Ku rasa tidak, sebab perihal perih, 'yang merasakanlah' yang paling terluka, pun 'yang merasakanlah' yang paling bisa mengobati. Dan kupikir, Eyang Putri sudah cukup kokoh menerima kenyataannya. Namun tentu saja, sesekali ketika perih itu kembali tersentuh, trauma rasa sakitnya seolah kembali hadir. Bukan karena lemah, namun karena ia tetaplah manusia biasa. Hatinya tercipta rapuh sekaligus kuat di waktu yang sama. Terbukti waktu tetap menuntunnya, ia tetap menjalankan hidup sebaik mungkin hingga saat ini. Bukankah itu saja sudah cukup? Tak perlu dengan aku menabur runtunan kalimat yang seolah menguatkan. Cukup dengarkan saja, tak perlu memaksakan diri memberikan feedback di situasi yang kurang tepat. Jatuhnya bukan penguatan melainkan hanya cangkang tanpa isi—nasihat kosong. Tentu saja, dalam hal usia Eyang Putri bahkan jauh lebih berpengalaman dariku. Dan poin utamanya, peran 'yang merasakan' di sini adalah Eyang Putri dan keluarga yang ditinggalkan. Aku hanyalah orang lain, bukan keluarga, bukan pula ustadzah, tak pantas rasanya jika aku hanya memberikan ceramah kosong. 

Seorang laki-laki yang sedari tadi duduk menemani Eyang Putri tersenyum ketika mendengar tangisan tertahannya Eyang Putri. Laki-laki itu bernama Yuf—salah satu cucu Eyang Putri yang juga merupakan adik dari salah satu teman dekatku. Aku cukup mengenalnya. Masa kecilnya yang sering mengekori kakaknya masih dapat ku ingat walau samar-samar. Ketika beranjak dewasa, lingkungan dan pengalaman mulai mengubah kepribadiannya—dari adik kecil yang menggemaskan menjadi laki-laki remaja yang sering adu mulut dengan kakak perempuannya. Namun begitulah rukunnya persaudaraan, bukan saling mendiamkan melainkan saling adu mulut yang akan selesai seketika itu juga. Setidaknya begitulah ingatanku mengenai Yuf di usia remajanya. Dan kini, Yuf ini sudah cukup dewasa. Kehadirannya dalam menemani Eyang Putri ketika dirawat olehku cukup banyak memberikanku kemudahan. Dalam beberapa hal, aku bisa minta tolong padanya. Dan kuharap, ia juga bisa menyerap pengaplikasian ilmu keperawatan yang kuberikan kepada Eyang Putri. Sebab, perawatan terbaik bukan hanya datang dari perawatnya saja, melainkan juga dukungan serta perawatan dari keluarga.

Eyang Putri sesekali masih menangis, aku masih diam mendengarkan kalimat demi kalimat yang coba diluapkan oleh Eyang Putri. Biarkan, jika itu bisa membuat Eyang Putri menjemput perasaan leganya, biarkan. Sementara Yuf ketika merasakan bahwa situasi mulai tidak terkendali memilih untuk juga mengeluarkan suaranya. 

"Kok masih nangis, Ibu kan udah pulang. Jangan ditangisi terus. Nanti malah Ibu di sana nggak tenang. Udah ya nangisnya, biar Ibu juga tenang. Iya kan, Mbak?" ujar Yuf seolah meminta persetujuan. 

Aku tersenyum menanggapi, begitulah respon terbaik yang bisa kuberikan saat ini. Berbeda dariku, Yuf lebih berhak untuk bersuara, mengeluarkan kalimat menenangkan karena posisinya di sini juga sebagai 'yang merasakan'. Ia adalah cucu Eyang Putri, terlebih putra dari wanita yang telah berpulang itu—salah satu putri tercinta Eyang Putri. 

"Udah diminta pulang oleh Yang Punya masa mau nggak ikhlas terus. Kita ini kan ada yang punya, pada akhirnya semua akan diminta pulang, bedanya ada yang pulang duluan, ada yang nanti. Bener gitu kan, Mbak?" ujar Yuf kembali. 

Usianya bisa dibilang jauh lebih muda dariku, gayanya—atau bahkan tattonya yang oleh beberapa orang mungkin akan dipandang sebagai laki-laki yang jauh dari kata alim—walau perihal alim bukan sekedar sampul semata. Namun sejauh aku mengenalnya sebagai adik dari temanku—terlebih setelah cukup lama aku tidak berinteraksi dengannya, rupanya pemikirannya kini sudah cukup berbeda. Aku menyadari bahwa Yuf bukan anak kecil lagi. Pengalaman hidup mungkin telah menjadi guru yang mengajarkan Yuf untuk dapat berpikir demikian. 

"Kok bisa kamu ngomong gitu? Ikut ngaji dimana?" ucapku sekedar mencairkan suasana saat jari jemariku masih sibuk memberikan perawatan kepada Eyang Putri. 

"Ngaji tuo, Mbak," ucap Yuf santai. 

"Loh, di usia segini kamu sudah berani ikut ngaji tuo, Yuf?"

'Ngaji tuo' adalah mengaji atau belajar agama yang dilakukan oleh sekelompok orang-orang—biasanya lanjut usia dengan menggunakan metode pengajian yang mendalam atau matang alias 'tuo'. tidak sekadar mengaji, tidak sekedar sampulnya, tidak sekedar pemikiran tentang 'dunyo', melainkan 'Lillah', yang berarti "untuk Allah" atau "karena Allah".

"Iya, Mbak. Kenapa nggak berani? Mau muda atau tua sama saja. Kan kita juga nggak tahu kapan pulangnya."

Tiba-tiba ingatanku menyelam pada masa di mana Eyang Kakungku yang dulu juga rutin ikut ngaji tuo. Sejenak aku bisa mengingat pulangnya Eyang Kakung yang sempat kuabadikan dalam puisiku. Kira-kira begini penggalannya;

tugasmu sebagai jam tangan pengingat masuknya waktu sembahyang teruntuk sang senja telah usai
fajar selepas sarapan,
berjalan ke beranda rumah,
melihat dan mengajak ngobrol bojo,
bahkan sempat dagelan dengan salah satu cucu

sambil duduk selunjur,
melepas peci dari kepalanya,
mengambil beberapa lembaran yang terselip di lipatannya—apakah mungkin hanya untuk memastikan, siapkah semua yang di dunia harus ditinggalkan?

kemudian melepas jam tangan,
menyusul peci tuk di gantungkannya di paku samping —tempatnya duduk selunjur, masih bersandar, lalu memejamkan mata, hanya memejamkan mata—namun tak kembali terbuka.
—06112019

"Kalau ngaji tuo katanya bisa minta pulang dengan cara yang Husnul khatimah. Benar begitu, Yuf?" tanyaku kembali mengalihkan situasi sendu agar jauh lebih nyaman.

"Tanpa diminta sebenarnya kita ini sudah dikasih Husnul Khatimah, Mbak. Betul kan?"

Aku diam sejenak, mencerna maksud dari ucapannya Yuf, lalu tersenyum seraya mengangguk begitu sudah memahaminya. 

Perihal ikhlas bukan suatu yang mudah, hari ini bisa ikhlas besok lupa, ikhlas lagi, lupa lagi, berulang. Namanya saja hidup. Namun sepenggal kalimat Yuf hari itu masih cukup membekas di ingatanku, seolah seperti angin segar yang berhembus. Memberi sedikit rileksasi dalam menghadapi hal-hal yang tidak bisa dikontrol kecuali oleh-NYA.

... 

Kini... Ku temukan pria dengan mata teduh menatapku, bibirnya tersenyum mendengar ceritaku, di sore hari dengan angin yang bertiup menerpa rambut alami kecoklatan ku, terasa menyejukkan. Terlebih dengan suara gemericik air di sekitar kami yang seolah memberikan belaian kasih sayang-NYA pada kami.

"Sebenarnya, kalimat itu bisa di ucapkan oleh siapa saja. Namun melalui adik teman kamu malah bisa nempel di ingatanmu," ujarnya menanggapi.

"Sebab aku cukup tahu perjalanan hidupnya bagaimana, riwayat keluarganya. Jadi ucapan itu tidak seperti omong kosong belaka."

Mata teduh itu sedikit melengkung ketika bibirnya tersenyum mendengar kalimatku.

Pandanganku terlempar ke satu titik terdalam. Titik yang hanya bisa di selami oleh Aku untuk bertemu dengan 'Aku'. 

"Gusti Allah itu kangen sama kamu, makanya entah bagaimana, melalui Yuf yang ikut ngaji tuo ke tempat yang jauh pun bisa sampai di kamu. Untuk menguatkanmu di waktu-waktu tertentu. Seperti saat ini."

Kembali ku pandang wajah pria di hadapanku kini. Aku terkekeh kecil mendengarnya. Ah, benar juga. Thanks, Yuf! 

"Aku tahu... mengenai apa saja yang menimpa, terlalu berat jika semua diuraikan. Namun apa yang sebenarnya kita cari? Jalani sebaik-baiknya sampai Gusti Allah sendiri yang meminta kita untuk pulang. Dan atas segala cara sempurna ataupun tidak sempurna dalam menerima qodho dan qodar-NYA, aku yakin... kita pasti akan langsung di masukkan ke dalam surga-NYA. Dan saat itu tiba, aku sudah membawa daftar siapa saja orang-orang yang akan aku ajak ke surga bersama," ucapku ngelantur, dengan sedikit bercanda aku mulai menyebutkan daftar orang-orang yang nanti akan aku ajak bersama di kedamaian yang menyejukkan. Namun meski diucapkan dengan nada bercanda, tetap terselip harapan, agar pohon beringin di atas kepalaku pun berbisik kepada-NYA. 

Aku tahu, Gusti Allah menyayangiku. Sekalipun mataku tersenyum pun menangis. Aku tahu, 'Gusti Allah pasti mengasihi dan menyayangi.'

Bismillahirrahmanirrahim, batinku menyeru meyakini. 

"Kita Lillah, ya," ujar pria bermata teduh itu seolah kembali membawaku ke dunia sekarang. Aku menitikkan air mata seraya mengangguk, "Kita, Lillah. Namun tetap sisakan harapan dan keikhlasan di ruang ikhtiar kita. Karena kita masih diberi kesempatan hidup," balasku berbisik pelan. 

Kali ini pria itu yang mengangguk, lantas kami kembali saat panggilan adzan magrib mulai berkumandang.

Apa yang kucari? 

🌻...masa mau nggak ikhlas terus. Kita ini kan ada yang punya, pada akhirnya semua akan diminta pulang.🌻

310120260942

Tidak ada komentar:

Posting Komentar